👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bulughul Maram
🔊 Hadits ke-2 | Pandanglah Orang yang
di Bawahmu dalam Masalah Dunia
⬇ Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
بسم
اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Para ikhwan
dan akhwat sekalian yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla,
Kita
lanjutkan hadits berikutnya,
HADITS 2
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي اللّه عنه قَالَ:قَالَ رَسُوْلُ اللّهِ صلّى اللّه عليه وسلّم أُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ
عَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
Dari Abu
Hurairah radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu ia berkata: Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi
wa sallam bersabda: “Lihatlah kepada yang dibawah kalian dan janganlah kalian
melihat yang diatas kalian sesungguhnya hal ini akan menjadikan kalian tidak merendahkan
nikmat Allāh yang Allāh berikan kepada kalian".
(Hadits ini
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Ikhwan dan
akhwat sekalian yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, hadits ini
mengajarkan kita dalam masalah dunia hendaknya kita melihat ke bawah,
bagaimanapun kekurangan yang ada pada diri kita dalam masalah dunia, pasti masih ada orang-orang yang lebih parah
daripada kita.
Lihatlah
kita sekarang dalam keadaan sehat alhamdulillah. Kalau kita melihat ke
bawah, betapa banyak orang yang sakit,
betapa banyak orang yang terkapar di tempat tidur tidak bisa bergerak karena
sakit. Kemudian betapa banyak juga orang yang cacat yang lebih parah dari kita
lebih banyak. Dan seorangpun kalau diapun sakit masih ada yang lebih parah
sakitnya. Senantiasa pasti ada yang lebih menderita daripada apa yang kita
rasakan.
Kalau kita
selalu melihat ke bawah dalam masalah kesehatan saja, maka kita akan senantiasa
bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan ini memang berat. Senantiasa
bersyukur bukan perkara yang mudah.
Oleh
karenanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Hanya
sedikit dari hamba-hambaKu yang bersyukur. (Saba':13)
Kita berdo'a
semoga Allāh menjadikan kita termasuk dari hamba-hamba Allāh yang sedikit tersebut.
Dan diantara
hal yang membuat kita senantiasa bersyukur, melihat ke bawah dalam masalah
dunia.
Demikian
juga masalah harta, misalnya, kita
mungkin punya kendaraan yang mungkin kurang bagus, tetapi masih banyak orang
dibawah kita yang kendaraannya lebih jelek daripada kendaraan milik kita.
Dan bisa
jadi masih banyak orang yang hanya memiliki motor atau memiliki sepeda bahkan.
Masih banyak orang yang hanya bisa berjalan kaki, tidak memiliki kendaraan sama sekali maka
dalam hal dunia kita lihat ke bawah,
jangan kita lihat ke atas. Karena
dunia kalau lihat ke atas maka tidak akan ada habisnya. Maka Rasūlullāh
melarang untuk melihat ke atas masalah dunia.
Dunia tidak
akan pernah habisnya, orang yang mencari
dunia akan senantiasa haus akan dunia. Maka terkadang kita heran tatkala
melihat ada seorang sudah tua, umur sudah 60 tahun atau 70 tahun atau bahkan 80
tahun, namun masih sibuk tenggelam dalam dunia, masih memikirkan ini memikirkan
anu, kapan dia mau istirahat? Kapan dia mau menikmati dunianya sementara dia
terus mencari dunia dan demikian terus kehidupannya.
Mungkin kita
heran, tapi dia sendiri tidak heran. Kenapa? Karena memang tidak ada rasa batas
terakhir masalah kepuasan dunia. Seorang kapan mendapatkan sesuatu dia masih
mencari yang lain lagi.
Kata Nabi
shallallāhu 'alayhi wa sallam:
لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ
"Seandainya
anak Adam memiliki 2 lembah emas maka dia akan mencari lembah yang ke-3 dan dia
tidak akan berhenti kecuali kalau pasir sudah dimasukkan dalam mulutnya".
Kalau sudah
meninggal baru dia berhenti. Dunia itu ibarat air laut yang asin. Semakin
ditelan maka akan semakin membuat haus seseorang. Makanya dalam masalah dunia
kita lihat dibawah agar kita senantiasa bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa
Ta'āla.
Berbeda
halnya dengan masalah akhirat, masalah akhirat kita lihat ke atas. Allāh
mengajarkan kita untuk semangat dalam masalah akhirat.
Oleh
karenanya tatkala kita sholat kita mengatakan :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ
"Ya
Allāh tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang
Engkau beri nikmat kepada mereka".
Siapa?
Mereka yaitu nabiyyiin wa shiddiqiin wasy syuhadaa wash shaalihin, jalan para
Nabi, jalan para orang shidiq, para syuhada dan orang-orang shalih.
Kita disuruh
untuk melihat ke atas masalah akhirat senantiasa minta petunjuk mereka,
petunjuk jalan yang pernah ditempuh oleh orang-orang yang hebat-hebat seperti
para Nabi, para syuhada, para shalihin.
Demikian
juga Allāh mengatakan:
وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
"Dan
untuk yang demikian, maka hendaknya orang-orang yang berlomba,
berlomba-lombalah...". (Al Muthaffifin : 26)
Dalam
masalah surga maka berlomba-lombalah.
Kata Allāh :
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
"Berlomba-lombalah
dalam kebaikan". (AlBaqarah : 148)
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ
"Berlomba-lombalah
untuk meraih ampunan Allāh. Dan berlomba-lombalah untuk segera meraih surga
yang luasnya seluas langit dan bumi".
(Ali Imran:
133)
Dalam
masalah kebaikan, dalam masalah agama maka seorang melihat ke atas sehingga dia
tidak merasa puas dengan agama yang dia miliki, dia tidak merasa ujub (merasa
bangga).
Bukan
sebaliknya, sebaliknya orang masalah dunia lihat ke atas, masalah agama lihat
ke bawah. Masalah dunia tidak pernah puas, melihat ke atas terus, sudah punya
mobil masih melihat tertarik kepada mobil yang mewah, melihat tetangganya,
melihat teman-temannya. Masalah agama malah justru lihat kebawah. Dia
mengatakan "Ah, alhamdulillah saya sudah sholat, masih banyak orang yang
tidak sholat". Ya benar memang masih banyak orang yang tidak sholat,
bersyukur kepada Allāh. Tapi lihat ke atas, agar kau merasa dirimu penuh
kekurangan, masih banyak orang-orang yang lebih hebat dari engkau sehingga
engkau terpacu untuk mencari yang lebih dalam masalah agama.
Karenanya
Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan :
فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ، وَأَعْلَى الْجَنَّةِ…..
"Jika
engkau minta surga maka mintalah surga Firdaus,
surga yang paling tinggi. Karena itulah surga yang paling tinggi".
Rasulullah
mengajarkan kepada kita untuk memiliki himmah 'aaliyah (semangat yang tinggi)
di dalam masalah agama dan kita tidak pernah puas dengan apa yang kita miliki
sekarang.
Semoga Allāh
Subhānahu wa Ta'āla menjadikan kita orang-orang yang memandang kebawah tatkala
masalah dunia dan menjadikan kita orang-orang yang memandang ke atas dalam
masalah agama.
Wabillahit
taufiq, wassalaamu 'alaykum warahmatullahi wabarakātuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar