👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bulughul Māram
🔊 Hadits ke-9 | Larangan Mendahului
Salam Kepada Orang Kafir
⬇ Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
بسم
اللّه الرحمن الرحيم
Ikhwan dan
akhawat sekalian yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kita masuk pada
halaqoh yang ke-12, masih berkaitan dengan adab salam.
Dari sahabat
"Abu Hurairah" radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu, beliau berkata:
قال
رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم "لَا تَبْدَؤُوا اَلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى بِالسَّلَامِ, وَإِذَا لَقَيْتُمُوهُمْ فِي طَرِيقٍ, فَاضْطَرُّوهُمْ إِلَى أَضْيَقِهِ"
Rasūlullāh
shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: Janganlah kalian mulai memberi salam
kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashrani. Dan jika kalian bertemu
dengan mereka dijalan maka buatlah mereka tergeser ke jalan yang sempit.
(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim).
Ikhwan dan
akhwat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, hadits ini
dipermasalahkan oleh sebagian orang yang menjelaskan Islam kok demikian, kok
mengajarkan sikap keras kepada orang-orang kafir?
Sebenarnya
hadits ini tidak menjadi masalah karena kita menempatkan dalil-dalil sesuai
dengan kondisinya.
Ada
dalil-dalil yang menunjukkan bagaimana rahmatnya Islam. Dan terlalu banyak
dalil yang menunjukkan bagaimana sikap Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam
terhadap orang-orang kafir dengan muamalah thayyibah, dengan sikap yang baik
dalam rangka untuk mengambil hati mereka.
Bahkan
terhadap orang yang sangat membenci Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam,
Abdullah bin 'Ubay bin Salul. Tatkala meninggal dia tidak punya kain kafan.
Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan baju yang beliau pakai
untuk dijadikan kain kafan bagi Abdullah bin 'Ubay bin Salul. Padahal dia
adalah gembongnya orang munafiq yang sering menyakiti Nabi shallallāhu 'alayhi
wa sallam dan juga keluarga Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Yang telah
memimpin untuk menuduh 'Aisyah telah melakukan berzina. Akan tetapi Rasūlullāh
shallallāhu 'alayhi wa sallam bermuamalah dengan baik dengan dia.
Demikian
juga Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bermuamalah baik dengan orang kafir
seperti orang Yahudi yang pernah menjadi pembantu Nabi shallallāhu 'alayhi wa
sallam, maka tatkala sakit, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menjenguknya.
Dan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mendakwahinya dan terlalu banyak dalil
bagaimana sikap lemah lembut dari kaum muslimin terhadap orang-orang kafir.
Ini bab
tentang muamalah. Maka seseorang berusaha untuk berbuat baik kepada orang-orang
kafir dalam rangka untuk mengambil hati mereka.
Tetapi dalam
kondisi-kondisi lain, dimana tatkala kondisi menunjukkan Islam harus lebih
tinggi, contohnya tatkala melewati suatu jalan maka seorang muslim ketika
berjalan ditengah jalan, kemudian ada orang kafir lewat maka jangan kemudian
dia minggir kemudian mempersilakan orang kafir, ini menunjukkan kehinaannya
dia, tidak. Kita tetap berjalan karena dia berhak untuk jalan ditengah. Dia
seorang muslim, maka dia jangan mengalah.
Ini cara
seorang muslim memiliki 'izzah, memiliki kemuliaan, bukan malah lemah loyo
dihadapan semua orang.
Dan ini
kadang terjadi, misalnya dalam suatu perkumpulan orang muslim malu berbicara,
orang kafir terus yang berbicara. Orang muslim tidak enak-tidak enak, orang
kafir yang menguasai majlis. Ini tidak benar. Ini saatnya menunjukkan Islam
harus memiliki 'izzah, memiliki kemuliaan dihadapan orang-orang kafir.
Oleh
karenanya bab tentang muamalah hasanah bab tersendiri, adapun bab tatkala
seseorang harus menunjukkan keutamaan Islam maka dia harus tunjukkan.
Ada beberapa
point yang berkaitan dengan hadits ini.
Yang
pertama, seorang muslim tidak boleh mendahulukan mengucapkan salam kepada
Yahudi dan Nashrani. Kenapa?
Karena salam
itu menunjukkan kemuliaan dan ada do'a, dan yang penting ada do'a. Kalau kita
mengucapkan Assalaamu'alaykum berarti kita mendoakan keselamatan bagi dia, dia
tidak berhak untuk mendapatkan keselamatan. Dia kafir kepadaAllāh Subhānahu wa
Ta'āla, dia kafir terhadap Nabi Muahammad shallallāhu 'alayhi wa sallam, dia
berbuat kesyirikan, bagaimana kita mengatakan keselamatan bagi kalian. Maka
tidak kita berhak, tidak boleh bahkan (bukan cuma tidak berhak), tidak boleh
untuk mengucapkan salam dahulu kepada mereka.
Akan tetapi
kalau mereka yang dahulu memberi salam, maka kita menjawab. Kalau mereka
mengucapkan "Assalaamu'alaykum". Kita jawab "Wa'alaykum",
demikian juga bagi kalian.
Namun para
ulama menyebutkan, jika kondisinya ternyata sulit, masa kita bertemu dengan
orang-orang kafir kita tidak memberi salam sama sekali. Nanti menunjukkan
prasangka buruk kepada kaum muslimin.
Maka para
ulama (banyak ulama yang membolehkan). Tatkala Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,
seperti ulama sekarang Syaikh Albani rahimahullāhu. Jika kita bertemu dengan
orang-orang kafir, misalnya mungkin bos kita, mungkin teman kerja kita, rekan
kerja kita. Maka kita tidak mengucapkan “Assalaamu'alaykum", kita
menggunakan kata-kata salam yang lain, seperti kita mengatakan "selamat
pagi", "bagaimana kondisimu?", "good morning", seperti
itu tidak jadi masalah, yang penting tidak ada do'a (Assalaamu'alaykum itu
do'a) yang tidak pantas untuk diberikan kepada orang-orang yang musyrik dan
kafir kepada اللّه juga kafir kepada Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Demikian
para ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Apa yang bisa
kita sampaikan pada halaqoh ke-12, akan lanjutkan pada halaqoh berikutnya.
Wabillahit
taufiq.
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
Tidak ada komentar:
Posting Komentar