👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bulughul Maram
🔊 Hadits ke-6 | Anjuran Menjilat Jari
Sesudah Makan
⬇ Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Ikhwan dan
akhwat, kita masih bersama Kitābul Ādāb dari Kitābul Jāmi' yang terdapat di
akhir dari Bulughul Marām karangan Ibnul Hajar AsySyāfi'I rahimahullāhu Ta'āla.
8⃣ Kita sekarang
masuk pada halaqah yang ke-8,
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم: «إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا, فَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ, حَتَّى يَلْعَقَهَا, أَوْ يُلْعِقَهَا». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. (١)
📖 Hadits dari Ibnu 'Abbas radhiyallāhu
Ta'ālā 'anhu beliau berkata: Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
Jika salah seorang dari kalian makan makanan jangan dia usap tangannya sampai
dia menjilat tangannya tersebut. Atau dia menjilatkan tangannya
tersebut. [Muttafaqun Alaihi]
Kata Ibnu
Hajar diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Ikhwan dan
akhwat, hadits ini menjelaskan tentang salah satu adab daripada adab dalam
memakan.
Seorang yang
makan hendaknya dia membersihkan makanan. Dan inilah adab Islam yang sangat
indah agar kita dijauhkan dari sikap tabdzir, dijauhkan dari sikap kufur kepada
nikmat.
Bayangkan
kalau makanan yang lezat belum habis kemudian kita cuci piringnya tersebut atau
kita cuci tangan kita sehingga mengalirlah makanan tersebut bersama
kotoran-kotoran, ini merupakan bentuk dari tidak bersyukur kepada Allāh
Subhānahu wa Ta'āla.
Oleh
karenanya, Islam mengajarkan kita untuk bersyukur atas segala nikmat yang Allāh
berikan kepada kita.
Dalam hal
makanan, kita berusaha menghabiskan makanan tersebut. Seorang makan sesuai
dengan keperluannya. Dan tatkala dia ambil makanan tersebut, maka dihabiskan,
jangan sampai ada yang dibuang sehingga dia menjilat sisa-sisa makanan yang
ada. Baik yang ada di tangannya ataupun yang ada di piringnya.
Maksud Nabi
disini bukanlah tatkala sedang makan dijilat-jilat tangannya kemudian dia makan
lagi apalagi tatkala sedang makan berjama'ah, tidak. Maksudnya di akhir tatkala
selesai makan, selesai makan dibersihkan.
Karena dalam
hadits Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:
إِنَّكُمْ لاَ تَدْرُونَ فِى أَيِّهِ الْبَرَكَةُ
Kalian tidak
tahu dibagian mana makanan tersebut yang ada keberkahannya.
Tatkala
makanan banyak dihadapan kita, Allāh meletakkan barakah di sebagian makanan
tersebut, kita tidak tahu dimana barakah tersebut, apakah di awal makanan kita,
apakah ditengah makanan kita atau di akhir makanan kita.
Dan kalau
pas kita mendapati keberkahan makanan tersebut maka ini akan berpengaruh dengan
ibadah kita, keberkahan membuat kita sehat, diberkahi oleh Allāh makanan
tersebut sehingga, buat kita sehat, buat kita semangat untuk beribadah. Ini
Allāh berikan keberkahan kepada makanan tersebut.
Maka
seseorang berusaha untuk menghabiskan makanannya sehingga dia bisa pasti
mendapat keberkahan makanan tersebut.
Karena
diajarkan bagi kita untuk menjilat-jilat tangan kita yang masih bersisa-sisa
makanan.
Demikian
juga kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam: Atau dia jilatkan kepada
oranglain (أَوْ يُلْعِقَهَا), maksudnya yaitu seperti antara
suami dan istri, diantara bentuk rasa cinta suami dan istri, istri terkadang
menjilat tangan suaminya atau suami menjilat tangan istrinya.
Dan ini
diantara perkara yang disunnahkan, tidak jadi masalah kalau mereka sedang
makan, mereka saling suap menyuapi diantara mereka, atau saling jilat jari
jemari mereka atau antara ayah dengan anak, ini tidak mengapa dan diajarkan
dalam Islam.
Oleh
karenanya, jangan dengarkan perkataan sebagian orang yang merendahkan adab Nabi
shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam masalah ini. Mereka mengatakan "Apa
itu Islam, kok adabnya buruk? Sampai menjilat-jilat jari. Ini adalah perkara
yang menjijikkan. Ini tidak benar.
Maksud Nabi
bukan kita menjilat-jilat jari kita tatkala sedang makan bersama tengah makan.
Maka
maksudnya adalah setelah di akhir makan, untuk menunjukkan rasa syukur kita
kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Tidak ada sedikit makananpun yang kita buang,
tapi semuanya kita makan.
Dan kita
ingat, masih banyak orang-orang miskin yang kesulitan mendapatkan makan. Masih
banyak orang miskin yang kelaparan.
Apakah kita
kemudian makan kemudian ada sisanya lalu kita buang? Seandainya sisa-sisa
tersebut kita habiskan menunjukkan rasa syukur kita kepada Allāh Subhānahu wa
Ta'āla.
Demikianlah
apa yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini.
Wabillāhit
taufiq wal hidāyah.
Assalāmu'alaykum
warahmatullāh wabarakātuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar