👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bulughul Māram
🔊 Hadits ke-8 | Adab-Adab Memberi Salam
Dalam Rombongan
⬇ Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
بسم
اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Ikhwan dan
akhwat, Assalāmu'alaykum warahmatullāhi wabarakātuh.
Kita masuk
pada halaqoh yang ke-11 dari Baabul Adab.
Hadits dari
'Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu, beliau berkata:
ٍقال رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم : "يُجْزِئُ عَنْ اَلْجَمَاعَةِ إِذَا مَرُّوا أَنْ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمْ, وَيُجْزِئُ عَنْ اَلْجَمَاعَةِ أَنْ يَرُدَّ أَحَدُهُمْ ".
"Cukuplah
jika ada sekelompok orang atau sebuah jama'ah jika melewati jama'ah yang lain,
maka cukup salah seorang dari jama'ah yang lewat tersebut satu orang memberi
salam sudah cukup. Dan sebaliknya, demikian juga jama'ah yang disalami maka
cukup satu orang bagi mereka untuk membalas salam tersebut."
(Hadits ini
diriwayatkan oleh Ahmad dan AlBaihaqi).
Para ikhwan
dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, hadits ini sanadnya lemah
karena dalam sanadnya ada seorang rawi yang bernama Sa'id bin Khalid Al-Khuza'i
AlMadani. Dan dia adalah perawi yang dha'if.
Al-Imam
AlBukhari menyatakan fīhi nazhar. Demikian juga Abu Hatim dan Abu Zur'ah
mengatakan dha'īful hadits (haditsnya lemah). Kemudian juga Daruquthni
mengatakan laysa bilqowiy (orangnya tidaklah kuat).
Oleh
karenanya, secara sanadnya hadits ini adalah lemah. Akan tetapi Syaikh Albani
rahimahullāhu Ta'āla menyebutkan syawahid yang menguatkan hadits ini (yang
dimaksud dengan syawahid adalah hadits-hadits yang maknanya sama tetapi
diriwayatkan dari shahabat-shahabat yang lain). Dan syawahid tersebut
seluruhnya sanadnya juga lemah.
Oleh karenanya
Syaikh Albani mengatakan:
لعل
الحديث بهذه الطروق يتوقف فيسير حسنا
Kata beliau:
Mungkin dengan banyaknya jalan-jalan yang lain daripada hadits ini maka hadits
ini naik derajatnya menjadi hadits yang hasan.
Oleh
karenanya hadits ini juga dihasankan oleh Syaikh Albassam dalam kitabnya
Tauhidul Ahkam.
Intinya,
hadits ini wallaahu a'lam, ada yang mendha'ifkan, ada yang menghasankan.
Hadits ini
menjelaskan bahwasanya diantara adab yang berkaitan dengan memberi salam, jika
ada sekelompok jama'ah yang melewati jama'ah yang lain maka cukup yang memberi
salam satu karena hukumnya adalah fardhu kifayah.
اذا
قام به البعض سقط عن الباقين
Kalau
seorang sudah melakukannya, maka yang lain tidak perlu lagi wajib untuk
mengucapkan salam.
Demikian
juga dalam hal menjawab salam, jika ada seorang datang kemudian memberi salam
kepada jama'ah: "Assalāmu'alaykum!". Maka jama'ah tersebut tidak
wajib seluruhnya untuk menjawab, tetapi satupun sudah cukup.
Akan tetapi
kata para ulama mengatakan seandainya mereka menjawab seluruhnya maka ini lebih
baik, lebih afdhal.
Demikian
juga seandainya mereka jama'ah ini seluruhnya memberi salam dengan suara
ramai-ramai "Assalāmu'alaykum!". Maka ini juga lebih afdhal. Karena
hadits أَفْشُوا السَّلامَ, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa
sallam mengatakan: Tebarkanlah salam.
Hadits ini
umum, yang oleh karenanya siapa saja berhak untuk memberikan salam. Oleh karena
nya jika jama'ah ramai-ramai memberi salam atau jama'ah ramai-ramai menjawab
salam maka ini lebih afdhal, akan tetapi tidak wajib. Yang wajib cukup 1 yang
memberi salam dan wajib 1 menjawab.
Ini diantara
adab salam yang diajarkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadits
ini.
Kemudian ada
adab yang lain yang mungkin kita perlu sampaikan juga.
Dalam
Alqur'an Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
Jika kalian
diberi salam dengan suatu salam maka jawablah dengan salam yang lebih baik atau
yang semisalnya (AnNisaa 86)
Ini penting
ya ikhwan dan akhawat, kalau kita bertemu dengan seorang saudara kita kemudian
dia memberi salam: "Assalāmu'alaykum warahmatullāh wabarakātuh ",
maka hendaknya kita menjawab dengan jawaban yang sempurna, kita mengatakan
"Wa'alaykumussalam warahmatullāhi wabarakātuh".
Kalau dia
mengatakan "Assalāmu'alaykum " kita bisa jawab
"Assalāmu'alaykum" atau minimal kita tambah kita mengatakan
"Assalāmu'alaykum warahmatullāh".
Jadi kita
berusaha menjawab salam sebagaimana yang dia sampaikan atau lebih baik daripada
apa yang dia sampaikan.
Demikian
juga dalam secara lafal, demikian juga dalam hal misalnya saudara kita datang
memberi salam kepada kita dengan wajah tersenyum, dengan memandang kita maka
kita berusaha memandangnya dan kita juga berusaha senyum dengan dia karena
sebagian orang mungkin karena ada keangkuhan dalam dirinya jika ada yang
memberi salam kepada dia maka dia jawab dengan tanpa senyum. Atau dia menjawab
tanpa melihat orang yang memberi salam kepada dia. Ini adalah keangkuhan, yā
ikhwan.
Allāh
mengatakan:
فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
Jawablah
dengan lebih baik atau yang sama.
Kalau dia
senyum, kita senyum. Kalau dia senyumnya berseri, kita berseri-seri. Harusnya
demikian, ini adab yang diajarkan oleh Islam.
Oleh
karenanya, seorang berusaha menebarkan salam, menjalankan sunnah Nabi
shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Dalam hadits
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyatakan:
لا
تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلامَ بَيْنَكُمْ
Kalian tidak
akan masuk surga sampai beriman, dan kalian tidak akan beriman kecuali sampai
kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang suatu
amalan yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? Maka
tebarkanlah salam diantara kalian.
Maka jangan
malas kita untuk memberi salam. Ketemu saudara kita, kita beri salam, kita
kirim salam kepada saudara kita. Betapa keindahan yang masuk ke dalam hati
seseorang tatkala dikatakan si fulan memberikan salam kepada engkau, kemudian
kita mengatakan kirim salam balik kepada dia.
Ini semua
dalam meningkatkan ukhuwah, maka jangan angkuh untuk memberi salam dan jangan
angkuh juga untuk menjawab salam.
Wabillāhit
taufiq, assalāmu'alaykum warahmatullāh wabarakātuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar